yang berdiri di Kota Surabaya, ditegaskan adalah milik masyarakat Minang, terutama yang berdomisili di

“Tidak ada milik salah satu organisasi. Namun milik semua warga Minang,” kata Marwandi, salah satu tokoh masyarakat Jawa Timur, Minggu, 3 Mei 2020

Marwandi menerangkan hal tersebut berdasarkan kesimpulan dan keputusan Rapat Yayasan Forum Masyarakat Jawa Timur yang terdiri dari pembina, ketua, wakil ketua forum Masyarakat Minang Jawa Timur didapatkan kesimpulan bahwa marwah akan dikembalikan kepada budaya, olah raga dan seni.

Rumah Gadang akan kembali menggelar berbagai kegiatan untuk meningkatkan silahturahmi antar warga Minang dengan permainan anak nagari seperti saluang, randai, koa dan permainan warga lainnya seperti domino dan catur.

Sikap tersebut, menurutnya adanya permintaan warga Minang di Jawa Timur, agar tidak ada klaim sepihak terhadap rumah gadang, surau (musholla) dibawah penguasaan sebuah organisasi

Marwandi juga menilai, seluruh masyarakat termasuk warga minang mempunyai hak untuk bebas berbicara. Dalam penyelesaian masalah lebih mendahulukan musyawarah dan mufakat.

Dalam musyawarah tersebut juga diputuskan keputusan terhadap Rumah Gadang, harus diketahui Pembina, Nansech chatib, ketua yayasan, Yusri rajo dan wakil ketua, Marlius Barat. Hingga saat ini belum didapatkan informasi dari pihak yang disebut mengklaim penguasaan rumah gadang tersebut (*)

Related posts